Sejarah Panjang Proses Pembangunan Patung GWK, dari Pemerintah Soeharto Hingga Rezim Jokowi

Patung GWK yang tampak dari angkasa.

Belum lama, media sosial digegerkan dengan beredarnya video pemasangan kepala patung Wisnu di area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK). Patung kepala Wisnu seberat 4 ton tersebut dipindahkan menggunakan crane. Cuaca yang bersahabat dan kecepatan angin yang normal membuat proses pemasangan patung kepala Wisnu berjalan lancar.

Tinggi patung GWK yang mengalahkan Patung Liberty milik Amerika Serikat

patung GWK

Patung Garuda Wisnu Kencana yang tampak dari angkasa. Foto dari IG @Hidwii

Tinggi patung GWK ini konon melebihi tinggi Patung Liberty. Jika tinggi kebanggan warga Paman Sam hanya mencapai 92 meter plus konstruksi hingga mencapai 96 meter, maka tinggi Patung GWK mencapai 121 meter dari atas tanah.

Bila dhitung semua maka totalnya bisa mencapai 126 meter. Dari sisi bobot pun, patung GWK juga melebihi Patung Liberty. Dimana Patung GWK total beratnya mencapai 4 ribu ton yang terdiri dari 754 modul.

Selain itu, luas areal publik juga jauh melebih Patung Liberty yakni 8 kali lipat dari Liberty. Dari sisi proses pengerjaan, GWK menjadi patung tersulit saat dilakukan proses pemasangan karena menggunakan struktur baja dan tembaga.

Butuh waktu 28 tahun untuk bisa membangun patung GWK

patung GWK

Deretan patung-patung tertinggi di dunia.

Momen pemasangan patung Kepala Wisnu ini begitu dinantikan. Betapa tidak, seniman patung Nyoman Nuarta merancang Patung Garuda Wisnu Kencana sekitar 28 tahun lalu. Dari usianya masih terbilang  muda, hingga kini telah beranjak tua. Sekarang, Nuarta berusia 66 tahun.

Ide awal pembuatan patung GWK tersebut berasal dari permintaan Dirjen Pariwisata saat itu, Joop Ave. Saat itu, Joop Ave meminta Nuarta untuk membangun patung setinggi 5 meter untuk ditempatkan di bandara Ngurah Rai. Namun, Nuarta berpendapat, patung setinggi lima meter terlalu nanggung. Menurut Nuarta, Bali sebagai ikon pariwisata nasional dan penyumbang devisa besar negara seharusnya memiliki ikon seni yang besar sehingga bisa membanggakan Indonesia di mata dunia.

Selain itu, Nuarta pun kerap merasa miris ketika tempat peribadatan menjadi tontonan turis. Maka, Nuarta berinisiatif untuk membangun suatu ikon yang mengandung nilai spiritual masyarakat Hindhu yang dikhususkan untuk pariwisata tanpa mengganggu ritual peribadatan.

Untuk mewujudkan rencana itu, Nuarta merogoh kocek hasil penjualan sejumlah karyanya guna membeli lahan tandus bekas lokasi penambangan kapur liar seluas puluhan hektare di Desa Ungasan. Lahan itu berada pada ketinggian 276 meter di atas permukaan laut.

Nuarta merancang patung GWK sejak tahun 1989. Dua puluh delapan tahun merancang dan membangun Patung GWK merupakan waktu yang sangat lama. Banyaknya kendala membuat Nuarta harus terus bersabar untuk mewujudkan impiannya membangun GWK.

Beredar kabar salah satu penyebab tersendatnya pembangunan patung GWK ini terkait dengan nilai spiritualitas masyarakat setempat. Menurut masyarakat Hindu, Dewa Wisnu seharusnya menghadap ke utara. Namun, patung Garuda Wisnu Kencana malah menghadap ke arah sebaliknya, yaitu arah selatan yang merupakan arah dari Dewa Brahma. 

Selain itu, kurangnya pendanaan menjadi faktor utama lamanya proses pembangunan patung GWK. Restu membangun GWK telah dikantongi Nuarta dari Presiden Soeharto pada tahun 1993. Lalu, pada tahun 1997, Nuarta meletakan batu pertama sebagai penanda awal dibangunnya patung GWK.

Namun sayang, krisis moneter dan pergolakan yang terjadi pada 1998 membuat impiannya membangun patung GWK harus terhenti. Bertahun-tahun, mega proyek tersebut harus mangkrak.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap membangun patung GWK. Pada tahun 2000, Nuarta membawa potongan patung yang belum jadi di acara Expo GWK. Namun, tak membuahkan hasil juga.

Dia bahkan sempat menawarkan untuk menghibangkan asetnya seluas 80 hektare tersebut kepada negara senilai Rp1,2 triliun. Dia menghadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk memrosesnya. Sangat disayangkan, pergantian presiden harus menghentikan langkahnya untuk menempuh jalur hibah ini.

Barulah pada tahun 2013, Nuarta menjual 82% aset GWK kepada PT. Alam Sutera dengan harga yang murah. Bukan berarti dia merugi, tapi dari situlah Nuarta justru bisa meneruskan impiannya membangun patung GWK. PT. Alam Sutera memang membeli murah, tapi juga membantu pendanaan pembangunan. Dikutip dari kumparan.com, PT Alam Sutera menggelontorkan dana sebesar Rp450 miliar.

Nyoman Nuarta menargetkan Patung GWK akan rampung di akhir Agustus 2018 ini bertepatan dengan penyelenggaraan International Monetary Fund (IMF) World Bank Annual Meeting 2018. Jika berjalan sesuai dengan rencana, delegasi berbagai negara peserta International Monetary Fund (IMF) World Bank Annual Meeting 2018 akan mengunjungi GWK.